Stamp
Profile Image
Sugianto

Hidup adalah sebuah perjalanan. Tempat dimana kita keluar dari zona nyaman, mengenal diri sendiri, dan menjadi pribadi yang lebih baik. Menjelajah tempat yang belum pernah didatangi sebelumnya, mencoba hal baru, bertemu dengan orang baru, berbaur dengan masyarakat lokal, itu semua akan memberikan pengalaman yang berharga dan tak terlupakan seumur hidup. Highlight from my last Sumba trip https://youtu.be/0SxUl4lcODM

Stamp
Map Image
#trueculture

1.4 Setelah menceritakan tujuan saya ke Sumba, saya diajak ke kampung adat Praijing. Kampung ini dibangun diatas bukit, tentunya bukan tanpa alasan, ini adalah bagian dari strategi. Dahulu kala sering terjadi perang adat, & posisi kampung di posisi yg tinggi akan memberikan keuntungan bagi mereka. Mayoritas penduduk masih menganut marapu, kepercayaan yg meyakini pemujaan terhadap leluhur, karena itu tidak heran kita melihat banyak kuburan batu megalit yg sudah berumur ratusan tahun didepan rumah

Stamp
Map Image
#truepeople

1.1 Flight pagi ini adalah menuju Tambolaka, Sumba Barat. Terabaikan dan tertinggal, Sumba adalah pulau dengan budaya yang kental dan pemandangan yang indah. Sambil menunggu boarding, saya berkenalan dengan dua orang teman yang juga mau ke Sumba, ternyata mereka sudah beberapa kali ke Sumba, sehingga sudah cukup familiar. Kita mengobrol banyak tentang Sumba dan saling bertukar kontak. Sesudah sampai di Tambolaka kita berpisah karena destinasi yg akan kita tuju berbeda, sampai ketemu lagi kawan!

Stamp
Map Image
#truecapture

#2 Pagi ini saya dikenalkan dengan Kak Dewi. Kak Dewi inilah yg akan menemani saya untuk mengexplore Sumba Barat. Destinasi pertama yg akan kami tuju adalah pantai Bwanna, sekitar 90 KM dari Waikabubak. Sepanjang perjalanan, kami berpapasan dengan segerombolan anak anak yg baru pulang sekolah. Kata kak Dewi, tidak jarang anak anak disini harus berjalan kaki berkilo kilo meter untuk ke sekolah, akan tetapi hal ini tidak menyurutkan semangat mereka untuk menuntut ilmu demi masa depan yg lebih baik

Stamp
Map Image
#truedenim

2.12 Cuaca di Sumba sangat panas di siang hari dan dingin di malam hari, untungnya saya memakai koleksi celana jeans Wrangler terbaru yang menggunakan teknologi inficool. Teknologi ini membuat pengguna merasa nyaman meskipun dipakai dalam kondisi panas di bawah terik matahari. Bahannya yang tebal juga melindungi saya dari dinginnya udara ketika mengendarai motor mengexplore Sumba. Selain itu modelnya yg stylish sangat mendukung kebutuhan fashion saya untuk travelling outdoor seperti ini.

Stamp
Map Image
#truenature

3.2 Tersembunyi dibalik semak belukar, siapa yg menyangka ada danau sebening kaca seperti ini. Menakjubkan, saya baru pertama kali melihat danau seperti ini, pasir putih digenangi air laut bergradasi.Weekuri ini adalah laguna yg dikelilingi oleh karang. Di ujung karang, ombak lautan keluar dari celah batu karang dan mengisi danau ini. Sekarang ini sudah dibuat sebuah tempat untuk melakukan lompatan, tapi entah harus senang atau sedih saya melihat hal ini.

Stamp
Map Image
#truefoodie

6.5 Sirih pinang adalah kebutuhan pokok selain makanan di Sumba, masyarakat pada umumnya mengkonsumsi sirih pinang sebagai cemilan. Dalam kehidupan sehari hari maupun jamuan adat ataupun hajatan, pastinya orang Sumba akan menyuguhi sirih pinang. Dan adat sopan santun, makan atau tidak makan harus diterima walaupun nanti diberikan kepada orang lain, dibawa pulang atau ditinggalkan pada tuan rumah. Atau untuk menghargai tuan rumah bisa juga dimakan tanpa kapur.

282 Votes
Know More
More From User
#truenature

2.1 Setelah hampir 2 jam lebih, akhirnya kami tiba di destinasi pertama. Tersembunyi di balik semak-semak, siapa yg menyangka ada pantai seindah ini, saya mengisi paru paru saya dengan menarik udara segar yg panjang dan mengucap syukur, kompensasi yg pantas setelah perjalanan yg panjang. Pantai ini memiliki pasir putih yg dikelilingi dengan tebing tinggi, dan terdapat 1 batu karang tinggi dengan bolongan di tengahnya. Sayangnya kami datang disaat lagi pasang, sehingga tidak bisa turun ke bawah.

#trueculture

1.4 Setelah menceritakan tujuan saya ke Sumba, saya diajak ke kampung adat Praijing. Kampung ini dibangun diatas bukit, tentunya bukan tanpa alasan, ini adalah bagian dari strategi. Dahulu kala sering terjadi perang adat, & posisi kampung di posisi yg tinggi akan memberikan keuntungan bagi mereka. Mayoritas penduduk masih menganut marapu, kepercayaan yg meyakini pemujaan terhadap leluhur, karena itu tidak heran kita melihat banyak kuburan batu megalit yg sudah berumur ratusan tahun didepan rumah

#truepeople

1.1 Flight pagi ini adalah menuju Tambolaka, Sumba Barat. Terabaikan dan tertinggal, Sumba adalah pulau dengan budaya yang kental dan pemandangan yang indah. Sambil menunggu boarding, saya berkenalan dengan dua orang teman yang juga mau ke Sumba, ternyata mereka sudah beberapa kali ke Sumba, sehingga sudah cukup familiar. Kita mengobrol banyak tentang Sumba dan saling bertukar kontak. Sesudah sampai di Tambolaka kita berpisah karena destinasi yg akan kita tuju berbeda, sampai ketemu lagi kawan!

#truecapture

1.2 Mobil yg saya tumpangi mulai meninggalkan bandara Tambolaka, saya melanjutkan perjalanan ke Waikabubak. Sepanjang perjalanan, hutan dan sawah yg hijau akan menjadi pemandangan yg tidak ada habisnya. Di tengah perjalanan, saya melihat segrombolan anak sekolah yg menaiki angkot, tetapi yg cukup unik adalah mereka menaiki atap & juga berdiri di bagian belakang, walaupun angkotnya sudah penuh. Kata supir travel saya, hal ini lazim disini, karena fasilitas transportasi masih sangat kurang sekali.

#truecapture

#2 Pagi ini saya dikenalkan dengan Kak Dewi. Kak Dewi inilah yg akan menemani saya untuk mengexplore Sumba Barat. Destinasi pertama yg akan kami tuju adalah pantai Bwanna, sekitar 90 KM dari Waikabubak. Sepanjang perjalanan, kami berpapasan dengan segerombolan anak anak yg baru pulang sekolah. Kata kak Dewi, tidak jarang anak anak disini harus berjalan kaki berkilo kilo meter untuk ke sekolah, akan tetapi hal ini tidak menyurutkan semangat mereka untuk menuntut ilmu demi masa depan yg lebih baik

#truepeople

1.3 Setelah sampai di Waikabubak, saya dijemput oleh kak Mujis, salah satu teman saya dari Sumba. Ini adalah pertama kalinya saya bertemu secara langsung dengan dia. Saya dibawa ke rumah, dan dikenalkan dengan beberapa temannya. Kita mengobrol banyak tentang Sumba. Walaupun baru kenal, mereka sangat ramah dan mengganggap saya seperti keluarga sendiri, tidak lupa juga gorengan menemani kita sambil mengobrol. Saya selalu bersyukur bertemu teman-teman baru di perjalanan seperti ini.

#trueculture

1.5 Saya melanjutkan perjalanan menuju kampung Tarung. Disini Uma(rumah) dibangun mengelilingi puncak bukit, dan di tengahnya terdapat kuburan batu yg berumur ratusan tahun. Di dinding rumah terdapat hiasan tanduk kerbau dan rahang babi, berfungsi sebagai status sosial. Mama Ledagoko bercerita banyak tentang kampung ini. Dia juga menawarkan kalung dengan hiasan mamoli, yg berbentuk seperti vulva wanita, melambangkan kesuburan.

#truepeople

1.6 Setelah selesai dari kampung tarung, saya dan kak Andi diajak ke rumahnya kak Prima, kami melanjutkan obrolan tentang Sumba dan juga rencana saya untuk mengexplore Sumba Barat beberapa hari kedepan. Dan kami juga dijamu untuk makan malam. Terima kasih kak Prima dan kak Yanti atas jamuannya, rendangnya maknyus, saya sampai nambah beberapa kali! hahahaha

#truenature

2.3 Karena tidak bisa turun ke pantai Bwanna, kita pindah ke Tanjung Mareha. Tanjung yg memisahkan Pantai Bwanna dan Pantai Watumaladong. Viewnya juga tidak kalah bagus disini, kita dapat melihat pantai Watumaladong dan Bwanna dari sini. Sama seperti pantai Bwanna, di bawah tanjung ini juga terdapat bolongan berbentuk lingkaran. Angin bertiup kencang dan pemandangan yg indah membuat saya enggan beranjak dari sini walaupun matahari bersinar terik. Sungguh luar biasa !

#truepeople

2.2 Tidak berapa lama disitu, kami didatangi oleh penduduk lokal, kami diminta untuk mengisi buku tamu, hal ini dilakukan untuk pendataaan dan juga donasi untuk pembangunan fasilitas untuk penduduk sekitar, mengingat akses dan jalan kesini masih sangat memprihatinkan. Saya juga memberikan beberapa buku dan alat tulis yang saya bawa untuk dibagikan kepada anak anak lokal. Karena saya percaya, jalan2 adalah salah satu rejeki yg diberikan tuhan, dan tidak ada salahnya kalau kita berbagi dgn sesama.

#truenature

2.4 Pantai Watumaladong adalah pantai yg ad di sisi lain pantai Bwanna. Tidak jauh dari pinggir pantai terdapat beberapa batu karang besar, sekilas tampak mirip dengan Phi Phi Island yg ada di negeri sebelah. Harus diakui, sebenarnya pantai ini tidak kalah bagus dari Phi Phi, pantai dengan pasir putih yg halus, pemandangan yg mengaggumkan, hanya saja akses jalan yg masih sangat susah menjadi satu-satunya hambatan untuk mencapai kepingan kecil surga yg jatuh ke bumi ini.

#truecapture

2.5 Kami melanjutkan perjalanan ke Desa Adat Ratenggaro di daerah Kodi, sepanjang perjalanan ini seperti membawa kita balik ke zaman lampau. Daerah ini nyaris tidak tersentuh globalisasi, dimana2 tampak rumah khas sumba dengan kubur batu megalith di depannya. Masyarakat lokal memakai ikat kepala & membawa parang kemana-mana. Kemudian satu hal lagi, anak2 kecil dan orang dewasa yg mengambil air, karena di daerah ini air cukup langka, sehingga tidak jarang mereka berjalan jauh untuk mengambil air

#trueculture

2.6 Sebelum memasuki desa, kita akan melihat kuburan batu di pintu masuk desa, ada kuburan yg polos dan juga ada yg bermotif. Motif seperti kerbau menandakan makam tersebut berasa dari keluarga yg berada. Sesampainya di Ratenggaro, kita mampir di rumah Pak Mikael. Beliau adalah salah satu keluarganya kak Dewi. Waktu kita datang, beliau sedang memainkan jungga, salah satu alat musik khas Sumba yg berbentuk seperti gitar. Beruntung, saya diijinkan oleh pak Mikael untuk mencoba memainkannya.

#trueculture

2.7 Deretan rumah adat menjulang tinggi seperti menara, suara deburan ombak di pantai, & angin bertiup sepoi sepoi, berada di Ratenggaro memberikan suasana yg berbeda dari kampung adat yg saya kunjungi sebelumnya. Saya menyerahkan sisa buku yg saya bawa hari itu kepada salah satu tetua disana untuk dibagikan kepada anak2. Terlihat warga desa sedang melakukan aktivitas mereka, menenun, memilin benang, dan juga anak2 yg sedang berkuda. Ratenggaro adalah salah satu desa menyelenggarakan Pasola.

#truecapture

2.8 Pasola adalah kegiatan rutin yg diadakan disini setiap tahunnya. Biasanya pada bulan Februari atau Maret. Pasola adalah ketangkasan melempar lembing kayu dari atas punggung kuda yg sedang dipacu kencang antara dua kelompok yang berlawanan. Tidak jarang acara ini menelan korban, akan tetapi kalau jatuh korban, pelaku tidak akan diproses hukum karena ini adalah bagian dari acara adat. Konon katanya kalau terluka ketika pasola, luka tsb cukup dipercik air suci & luka akan sembuh tanpa bekas.

#truedenim

2.12 Cuaca di Sumba sangat panas di siang hari dan dingin di malam hari, untungnya saya memakai koleksi celana jeans Wrangler terbaru yang menggunakan teknologi inficool. Teknologi ini membuat pengguna merasa nyaman meskipun dipakai dalam kondisi panas di bawah terik matahari. Bahannya yang tebal juga melindungi saya dari dinginnya udara ketika mengendarai motor mengexplore Sumba. Selain itu modelnya yg stylish sangat mendukung kebutuhan fashion saya untuk travelling outdoor seperti ini.

#truenature

3.1 Kami melaju kencang menembus jalan setapak yg biasa digunakan masyarakat untuk pergi memancing. Dikelilingi semak2, serta jalan yg sepi, tidak heran knp di daerah sini sering terjadi begal di waktu gelap. Hal inilah yg menjadi alasan kmren sore kami membatalkan untuk datang ke tempat ini. Sesampainya di pantai ini, deburan ombak dan laut tosca menyambut kami. Pantai putih dikelilingi karang2 membuat ini pantai ini seperti pantai yg tersembunyi.

#trueculture

2.9 Hal lain yg unik dari desa ini selain pasola adalah kubur batu megalith yg berumur ribuan tahun menghadap langsung ke pantai. Dan juga kuburan batu leluhur yg berukuran besar di bagian bibir pantai. Setelah selesai berkeliling desa, kami kembali ke rumah pak Mikael dan kebetulan Mama sedang menenun, bahan yg digunakan bisa dari benang pabrik atau benang yg dipintal sendiri, pada umumnya benang pintal akan membutuhkan waktu yg lebih lama, akan tetapi memiliki kualitas yg lebih baik.

#truecapture

2.10 Setelah berpamitan kepada mama dan pak Mikael, kita melanjutkan perjalanan. Sebenarnya saya berencana untuk ke ke Danau Weekuri, akan tetapi kami sudah terlalu sore untuk kesana, sehingga kami memutuskan untuk ke Pantai Pero saja. Ketika kita sampai disana, terlihat banyak masyarakat lokal sedang beraktivitas, anak anak mencari rumput laut, nelayan memancing, dan beberapa anak muda bermain bola.

#truecapture

2.11 Anak anak berlari dengan gembira sambil bercanda di pinggir pantai, saya mulai menghampiri mereka, mengambil beberapa gambar, dan akhirnya mereka sadar dengan apa yang saya lakukan. "Foto saya om", mereka mulai berebut untuk menarik perhatian saya untuk difoto. Mereka adalah anak anak lokal yg sedang mencari rumput laut untuk dijual. Saya menunjukan hasil fotonya kepada mereka dan mereka senang sekali. Sebelum saya pergi saya mengajak iksan dan fahri untuk foto bersama sebagai kenang2an.

#truepeople

3.0 Hari ini saya akan mengunjungi Pantai Mandorak di daerah Kodi. Kami mampir sebentar disebuah warung untuk membeli makan siang. Saya sempat mengobrol sebentar dengan mama, dan mama ini memberi saya nasehat untuk membantu orang lain yg membutuhkan, karena suatu saat kita juga pasti akan membutuhkan bantuan orang lain. Dan kalau kita sedang diuji, bersabarlah karena hidup ini terkadang kita diatas, terkadang dibawah, dan semua akan indah pada waktunya. Terima kasih mama untuk nasehatnya.

#truecapture

#3 Ketika kami sampai disini, tidak ada pengunjung sama sekali kecuali masyarakat lokal yg sedang memancing. Jarak yg jauh dan akses yg susah mungkin menjadi pertimbangan orang untuk datang ke tempat ini, tetapi bagi saya, keindahan pantai ini benar layak untuk diperjuangkan walaupun membutuhkan perjuangan yg lebih. Biasanya kita bisa melakukan cliff jumping dari tebing yg ada di bibir pantai, akan tetapi ketika kita datang ombak disini lagi terlalu keras, sehingga terlalu berbahaya.

#truenature

3.2 Tersembunyi dibalik semak belukar, siapa yg menyangka ada danau sebening kaca seperti ini. Menakjubkan, saya baru pertama kali melihat danau seperti ini, pasir putih digenangi air laut bergradasi.Weekuri ini adalah laguna yg dikelilingi oleh karang. Di ujung karang, ombak lautan keluar dari celah batu karang dan mengisi danau ini. Sekarang ini sudah dibuat sebuah tempat untuk melakukan lompatan, tapi entah harus senang atau sedih saya melihat hal ini.

#truenature

3.3 Pulang dari Kodi, kita melanjutkan perjalanan ke Air Terjun Lapopu, di daerah Wanokaka, membutuhkan waktu sekitar 2 jam dari Weekuri. Karena debit airnya yg deras, dibangun PLMTH untuk menyuplai kebutuhan listrik masyarakat setempat. Air terjun ini jatuh dari tebing yg tinggi, kemudian air menyebar di sela-sela pepohonan dan akhirnya jatuh ke kolam yang airnya jernih berwarna hijau toska.

#truepeople

3.5 Malam ini adalah malam terakhir saya berada di Waikabubak, saya mampir ke rumah kak Mujis untuk mengembalikan motor dan sekalian berpamitan. Kak Mujis adalah satu orang yang sangat berjasa dalam perjalanan saya kali ini. Walaupun baru kenal, beliau menganggap saya seperti keluarga sendiri. Beliau mengajarkan kalau rejeki bukanlah hanya tentang materi, rejeki juga bisa berbentuk teman baru, dan kesempatan. Dan bertemu dengan kak Mujis adalah salah satu rejeki. Terima kasih banyak Kak Mujis!

#truepeople

3.4 Setelah dari Lapopu, kami berencana untuk ke pantai Watubela, tapi sepertinya kami sudah terlalu sore untuk kesana, sehingga kami memutuskan untuk pulang saja. Melewati daerah Wanokaka, kami melewati sawah dan lembah lembah yang indah. Kemudian kami melihat ada beberapa bapak yg baru pulang dari kebun. Kami memutuskan untuk berhenti dan bergabung bersama mereka, duduk di pinggir jalan sambil menikmati pemandangan yg indah.

#truefoodie

3.6 Beberapa hari di Waikabubak, saya cukup penasaran dengan kuliner khas Sumba, akan tetapi dari kmren saya perhatikan tidak ada tempat makan yg menjual makanan khas, memang katanya makanan khas hanya disediakan pada acara adat. Pada malam terakhir ini, saya berhasil menemukan makanan khas Sumba di salah satu sudut kota ini. Daun ubi tumbuk, ikan kuah asam, dan daun bunga pepaya menjadi menu makan malam saya. Rasanya sudah tidak perlu diragukan, saya makan sampai nambah beberapa kali ! hahahaha

#truepeople

4.0 Pagi ini saya akan meninggalkan Waikabubak dan menuju ke Waingapu. Setelah saya membereskan barang2 saya, Kak Andi datang untuk menemui saya. Kami sudah berjanji untuk bertemu di pagi ini, karena malam sebelumnya Kak Andi sedang bertugas. Beliau membawakan saya kain Sumba, katanya kalau memberikan kain seperti ini, kita bukan lagi hanya sekedar teman, akan tetapi sudah menjadi keluarga. Terima kasih banyak Kak Andi, beruntung saya bisa memiliki keluarga baru di dalam perjalanan ini.

#truepeople

4.1 Travel saya meningggalkan Waikabubak menuju Waingapu, sejujurnya belum ada rencana yg jelas selama di Waingapu nanti. Saya mengobrol dengan beberapa penumpang di dalam travel. Ternyata ada satu kakak yg juga keluarganya Kak Dewi, sungguh suatu kebetulan sekali. Saya diturunkan di Toko Semar, kakak yg tadi mengenalkan saya dengan Kak Sinyo, sang pemilik toko. Kak Sinyo ini ternyata adalah temannya Kak Mujis juga. Tidak lama kemudian, Kak Sinyo memperkenalkan saya dengan kak Marco, temennya.

#truenature

4.2 Kak Marco mengajak saya untuk berkeliling Sumba Timur. Tujuan pertama kami adalah bukit Wairinding. Sebelum sampai di bukit Wairinding, kami mampir di sebuah bukit, yg bernama bukit raksasa. Knp dinamakan seperti itu? Karena bukitnya berbentuk seperti raksasa yg sedang tidur, bukan karena bukitnya ada raksasa :D Tidak lama setelah itu, kita sampai di bukit Wairinding, Bukit2 dengan savana yg sangat luas sejauh mata memandang, sungguh indah sekali.

#trueculture

4.3 Setelah dari Bukit Wairinding, kami kembali ke kota Waingapu. Tidak terlalu jauh dari pusat kota, kami mengunjungi Kampung Raja. Sekilas kampung ini mirip dengan kampung2 adat yg saya datangi di Sumba Barat, akan tetapi ada yg sedikit berbeda dengan batu kubur yg ada disini. Batu kubur disini dihiasi oleh ornamen2 yg lebih besar dan kompleks, seperti patung kerbau, buaya, kuda dan lain lain. Di depan rumah juga terlihat mama2 sedang menenun kain ikat khas Sumba Timur.

#truenature

4.3 Di bukit ini banyak anak kecil yg sedang bermain. Saya menghampiri mereka dan mengajak mereka untuk mengobrol. Beberapa dari mereka sudah sekolah, dan ada juga yg belum. Kebetulan saya membawa buku dan beberapa alat tulis. Saya mengajarkan beberapa dari mereka untuk menyampul buku, sepertinya anak anak jaman skrg sdh tidak menyampul buku seperti jaman kita dahulu. Senang rasanya bisa berbagi dan melihat senyum bahagia dari anak anak ini. Semoga bermanfaat ya adik adik! Belajar yg rajin!

#truenature

4.4 Bukit Persaudaraan, bukit berkumpulnya saudara saudara. Tidak tau kenapa bukit ini dinamakan bukit persaudaraan, mungkin dahulu kala banyak orang berkumpul disini untuk melihat pemandangan yg indah disini dan dari situ terbentuklah tali persaudaraan. Pemandangan disini memang sangat indah, bukit savana, dengan view sawah di satu sisi, di sisi lainnya adalah savana luas, dan terkadang ada segrombolan kuda dan sapi yang sedang merumput.

#truecapture

4.5 Saya mengakhiri perjalanan hari ini di Pantai Walakiri. Waktu yang paling tepat untuk ke pantai ini adalah ketika laut sedang surut. Di tengah pantai ini terdapat seperti gosong (Pulau Pasir) yg muncul ketika air surut. Di sudut kiri pantai juga terdapat pohon pohon manggrove yg terlihat seperti pohon yang sedang menari. Sayangnya ketika saya datang kesini, air sedang pasang setinggi paha dan kondisi langit yg tertutup awan. Akan tetapi saya tetap bisa menikmati keindahan pantai ini.

#truecapture

4.6 Ketika saya pulang dari Walakiri, saya melihat ke atas dan hasilnya adalah ribuan bintang di langit. Pemandangan yg sangat langka kita saksikan ketika kita tinggal di kota2 besar. Saya mencoba mencari posisi bimasakti, tp sepertinya masih terlalu pagi untuk melihat bima sakti. Saya akan menunggu sampai tengah malam. Jam menunjukkan pukul 12.00 WITA, saya naik ke atas atap, memasang kamera dan hasilnya mengaggumkan! Di tengah kota seperti ini kita masih bisa melihat Bima Sakti, sungguh indah!

#truenature

5.0 Hari ini saya diajak ke air terjun Tanggedu. Perjalanan hari ini akan ditemani oleh temannya kak Marco juga, kak Tendri dan sepupunya Anan. Sepanjang perjalanan menuju Tanggedu, kita akan menemukan sabana yang sangat luas, sekilas rasanya seperti di Afrika. Perjalanan kesana cukup berat karena harus naik turun perbukitan dengan jalan berbatu. Menuju ke Tanggedu, kita akan melewati desa Pranatang, desa yg dibangun di sebuah lembah yg sangat indah.

#truenature

5.1 Setelah sampai di desa Tanggedu, kita menitipkan motor kepada warga setempat, dan dilanjutkan dengan trekking menuju air terjun. Jalur trekking menuju air terjun cukup berat, akan tetapi kita akan ditemani oleh pemandangan bukit2 dan lembah yg sangat indah. Tidak berasa sudah hampir 20 menit kami berjalan, dan terdengar suara sumber air, yg artinya air terjun sudah dekat !

#truenature

5.2 Perjuangan tidak sampai disitu, kami masih harus menuruni bukit, melewati jalan yg sempit dengan tali sebagai pegangannya. Lelah, itulah yg kami rasakan ketika sampai di bawah, tetapi semua itu sirna ketika melihat air terjun tanggedu ini. Air terjun ini unik dengan formasi batuan sepanjang air terjun. Air terjun ini berbentuk seperti sungai panjang dengan batu di kedua sisinya. Airnya yg berwarna tosca, membuat kami segera untuk melompat dari atas tebing dan berenang dibawahnya.

#truenature

5.3 Setelah puas bermain air, kami melanjutkan perjalanan pulang. Di tengah perjalanan, kami mampir ke Pantai Puru Kambera. Sama seperti pantai Walakiri, pantai ini tidak terlalu ramai, dengan pasir putih yg halus. Waktu kami kesana, ada nelayan yg baru saja pulang dari menangkap ikan. Ada beberapa jenis ikan yg ditangkap oleh nelayan tersebut. Tetapi Giant Travelly cukup menyita perhatian saya dengan ukurannya yg besar.

#truecapture

5.4 Puru Kambera adalah salah satu spot terbaik untuk menikmati sunset. Tidak jauh dari pantai Puru Kambera, terdapat sebuah bukit savana, dari sini kita bisa melihat view Puru Kambera dan sekitarnya dari ketinggian, sungguh sangat indah sekali menyaksikan matahari terbenam dari sini. Tidak susah untuk menemukan tempat ini, cukup berhenti di pinggir jalan saja, maka kita akan dapat menikmati view seperti ini.

#truecapture

5.5 Masih penasaran dengan milkyway, malam ini saya memutuskan untuk mencoba mengabadikan langit Sumba kembali, akan tetapi kali ini saya mengambilnya di daerah dermaga lama. Memang masih ada sedikit cahaya di daerah sekitar, akan tetapi saya masih bisa mendapatkan apa yg saya cari, yaitu bimasakti.

#truenature

6.0 Hari ini adalah hari terakhir saya di Sumba, semalam setelah pulang dari dermaga, saya langsung ketiduran, untungnya saya kebangun pagi pagi sekali. Kak Trendi menjemput saya, dan kita langsung ke Walakiri. Sejujurnya saya juga masih penasaran dengan pantai ini, karena waktu itu saya datang ketika air sedang pasang. Pagi ini saya mencoba kembali keberuntungan saya, tetapi ternyata masih tetap pasang juga. Tidak kecewa sampai disitu, saya masih mencoba menikmati apa yg ada di hadapan saya.

#truenature

6.1 Walaupun air sedang pasang dan saya sedikit kecewa, akan tetapi saya masih bisa menikmati pantai Walakiri ini. Beginilah hidup, terkadang tidak semua berjalan mulus sesuai dengan keinginan kita, akan tetapi itu bukanlah akhir dari segalanya, kita harus bisa menemukan sisi lain dari hal tersebut. Dan percayalah, semua akan indah pada akhirnya.

#truecapture

6.2 Sebelum saya sampai ke Walikiri ini, ternyata ada seorang bule dari Jerman yg sudah datang terlebih dahulu dari pagi. Dia juga mencari hal yg sama seperti saya, tapi dia juga kurang beruntung, ini adalah ke empat kalinya dia kesini dan selalu lagi pasang. Dia mengajarkan saya untuk jangan pernah menyerah, coba terus dan kalau gagal setidaknya engkau bisa belajar untuk lebih baik lagi.

#truenature

6.3 Setelah dari Walakiri, saya memutuskan untuk pulang, karena saya perlu membereskan barang bawaan saya, dan saya ingin berpamitan dengan teman saya yang ada di Waingapu. Kami melewati sabana sabana, dan kemudian saya melihat ada kuda yg sedang merumput. Ini adalah hal yang saya cari sejak pertama kali menginjakkan kaki di Sumba. Saya langsung berhenti di pinggir jalan, dan menyaksikan kuda kuda ini berlari bebas di padang savana.

#trueculture

6.4 Saya singgah ke pasar sebelum pulang, begitu saya masuk, saya langsung ditawari oleh beberapa pedagang, barang yg ditawarkan ada bermacam-macam, baik dari Mamoli, Kain Ikat Khas Sumba Timur. Saya melihat kain ikat dengan berbagai motif, seperti kuda yg merupakan 'Belis' bagi masyarakat Sumba, motif raja, Mamoli, Pasola dan berbagai jenis lainnya.

#truefoodie

6.5 Sirih pinang adalah kebutuhan pokok selain makanan di Sumba, masyarakat pada umumnya mengkonsumsi sirih pinang sebagai cemilan. Dalam kehidupan sehari hari maupun jamuan adat ataupun hajatan, pastinya orang Sumba akan menyuguhi sirih pinang. Dan adat sopan santun, makan atau tidak makan harus diterima walaupun nanti diberikan kepada orang lain, dibawa pulang atau ditinggalkan pada tuan rumah. Atau untuk menghargai tuan rumah bisa juga dimakan tanpa kapur.

#truepeople

6.6 Sebelum berangkat ke bandara saya mampir terlebih dahulu ke rumah Kak Sinyo, tapi ternyata Kak Sinyo sedang ada urusan diluar, saya akhirnya berpamitan kepada papanya dan segera berangkat ke bandara, dihantar oleh Kak Marco dan Kak Tendri. Terima kasih kakak atas bantuannya selama beberapa hari disini, terima kasih Sumba dan Wranglers atas pengalaman yg sangat berharga ini, sedih rasanya meningglkan tempat ini, akan tetapi begitulah hidup, sampai berjumpa lagi lain kali SUMBA! #TrueWanderer